Langsung ke konten utama

Nasionalisme Ekonomi Trump Hebat, Bagaimana dengan Jokowi?

Nasionalisme Ekonomi Trump Hebat, Bagaimana dengan Jokowi?

Oleh: Heppy Trenggono
Presiden Indonesian Islamic Business Forum

Hasil gambar
Donald Trump
"Cina tidak pernah tulus sebagai teman"
"Cina memanipulasi kurs"
"Yang dilakukan Cina kepada kita sangat buruk sekali"
"Cina menggunakan kita untuk membangun negara mereka sendiri"
"Kita tidak boleh biarkan lapangan kerja dicuri bangsa lain"
"Kita menjadi sulit karena perjanjian perdagangan yang tidak adil bagi Amerika"

Itulah kalimat yang secara blak-blakan disampaikan selama kampanye maupun pada saat debat oleh Donald Trump. Akhirnya sejarah mencatat Trump terpilih sebagai Presiden amerika yang ke 45!
Kemenangan Trump tidak terlepas karena rakyat Amerika menangkap sebuah pembelaan yang jelas yang ditunjukkan oleh Trump kepada kepentingan Amerika. Di tengah isu globalisasi, Trump adalah harapan baru yang mewakili keinginan rakyat Amerika agar pemerintah lebih memprioritaskan kepentingan bangsanya dibanding kepentingan bangsa lain, yang melihat globalisasi tidak serta merta memberikan manfaat jika tidak dilakukan secara adil, yang melihat bahwa Cina adalah ancaman yang nyata bagi bangsa Amerika.

Rakyat Amerika lebih memilih Trump karena nasionalismenya. Rakyat Amerika memilih untuk memaafkan sikap arogan Trump karena memposisikan pembelaan terhadap kepentingan nasional jauh lebih penting. Sementara di sisi lain Hillary Clinton dipersepsikan 'mengkhianati' bangsanya sendiri, 'menjual' Amerika kepada negara lain.

Amerika akhirnya mengajarkan kepada kita bahwa kepentingan nasional harus dibela. Bahwa globalisasi bukan untuk menggantikan nasionalisme. Bahwa kepentingan bangsa sendiri harus ditempatkan di atas segala galanya.

Indonesia menghadapi ancaman dengan skala yang lebih buruk dibanding Amerika. Sumber daya alam sudah lama dikuasai asing. Pasar dalam negeri didominasi produk asing. Kepentingan Cina hadir secara massive. BUMN tergadai satu persatu kepada Cina. Orang-orang Cina mulai banjir di Indonesia, bahkan buruh China mulai mengisi lapangan kerja di Indonesia di tengah sulitnya anak bangsa mencari pekerjaan.

Berbicara tentang Trump, nasionalisme ekonominya perlu kita jadikan inspirasi, sementara hal yang lain, tentang islam, tentang karakter, bangsa Indonesia memiliki norma sendiri.

Yang menjadi pertanyaan, dimanakah Jokowi berada dalam persoalan nasionalisme ekonomi ini? Apakah Jokowi memiliki pandangan dan kesadaran sama seperti yang ditunjukkan oleh Donald Trump, atau sebaliknya? Ataukah justru ada benang merah  antara kepentingan China dengan  pembelaan Jokowi kepada Ahok?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesawat Made In INDONESIA

bila dihitung dengan berdirinya IPTN (nurtanio) tahun 1976, maka 30 tahun lebih industri dirgantara ini berjalan, sudah banyak produk yang di hasilkan. Tapi bila berbicara mengenai proyek2nya, yang jalan tak banyak, hingga kini yang tertinggal hanya 2, NC-212 dan segera membuat C-212 seri 400 dan CN-235. Adapun proyek2 pesawat yang pernah di buat PT.DI (selain lisensi) adalah : 1. N-250 berlanjut dengan N-250R (tidak ada beritanya lagi) 2. N-2130 jet ( berhenti) 3. N-219 commuter aircraft (nunggu pemodal) 4. ATRA-90 pesawt jet 120 penumpang dengan mesin propfan bekerja sama dengan boeing-mbb (berhenti) 5. NMX, executive jet dengan pemodal aeronimbus (berhenti) 6. Belibis WiG 8 penumpang dengan BPPT (belum ada kelanjutan) 7. CN-235 Next G (sedang berjalan, syukur sampai produksi) untuk helicopter: 1. BN-109 bekerja sama dengan MBB (kini eurocopter) 1986-1987 (berhenti). 2. NH-2 dan NH-5 tahun 1996 (berhenti) N-2130 Industri penerbangan Indonesia memang sarat kontr...
Pada suatu pagi saya diajak jalan-jalan menikmati pemandangan pegunungan di kaki gunung lawu, deru air terjun berlomba sampai ke dasar tebing di sekitaran lokasi kami menginap kian terasa indah dengan siraman mentari pagi. Berhentilah kami memandangi sebuah warung kecil, pintu masih tertutup dengan gembok menempel di gagang pintu nya. Saya bertanya jam berapa warung ini akan buka, dulu sekali kami pernah kesini lebih pagi namun sudah melayani setiap pembeli yang datang pada seorang lelaki paruh baya yang datang menghampiri dengan sarung terselempang dan kupluk di kepala, khas daerah dingin.

Lelaki dan Sejarah

Lelaki dan Sejarah Berapakah luas wilayah ruang dan waktu yang diberikan sejarah kepada setiap lelaki, untuk dimaknai, dihidupkan, lalu diabaikan? Apakah manusia, dalam perhitungan sejarah, memaknai dirinya dengan waktu atau biaya? Sejarah, pada mulanya, menggunakan deret ukur waktu. Disini, setiap manusia manjadi setetes air di laut sejarah. Setetes air itu bernama umur. Dan kumpulan tetes-tetes itu disebut sejarah: Kita adalah sejarah. Tak ada yang lepas dari padanya. Air itu selalu mengalir. Sejarah pun begitu. Ia adalah sebuah suasana mengalir yang tak pernah selesai. Ia hanya akan berhenti pada sebuah tempat yang kita sebut Padang Mahsyar. Tapi kemanakah sejarah mengalir? Dan mengapa selalu ada riak dan gelombang? Pernahkah engkau menanyakan, siapakah tetes-tetes air yang menjadi riak itu? Dan siapakah tetes-tetes air yang menjadi gelombang itu? Riak-riak adalah tetes-tetes yang menyatu dalam laut sejarah karena waktu. Dan gelombang itu, itulah lelaki-lelaki sejarah. Tak ...